Temukan Pedangmu di Dunia
ini
Apakah aku hanyalah
seorang idiot yang berkhayal akan menyelamatkan semua orang dengan kekuatannya?
Saat aku berjalan menuju
pintu kelas dengan senyum tipis yang mencerca diriku sendiri,
kuingat kembali hari itu. Dua tahun yang lalu. Saat semuanya berakhir dan dimulai.
***
Kastil 100 lantai yang
terbuat dari batu dan besi mengambang dengan bebas di langit yang tak berbatas
itulah keseluruhan dari dunia ini, didalam kastil ini terdapat kota dan desa
kecil di setiap lantainya, disini kami bagaikan player di dalam game MMORPG,
kami harus terus bertarung melawan monser untuk tetap hidup dan kami harus
mengalahkan bos disetiap lantainya untuk melaju ke lantai berikutnya, saat
membunuh monster dan bos kau akan mendapatkan uang, barang dan exp untuk
meningkatkan levelmu tetapi kekuatanmu tidak hanya bergantung dalam skill,
level juga berpengaruh terhadap total kekuatanmu.
Hal yang tak kalah paling penting adalah setiap dari kami memilih
tugas mulia kami saat pertama kali datang ada beberapa pilihan dalam tugas
mulia diantaranya pemanah, penombak, pendekar pedang, tombak dan lain lain, dan
aku memilih pendekar pedang kurasa itu bukan pilihan yang buruk karena berbeda
dari dunia ku sebelumnya disini kita dapat mengatur perkembangan dari kemampuan
kita, kita dapat mengaturnya di stats dan untuk mengembangkan kemampuan kita
memerlukan poin level yang didapatkan setelah level up, alasan lain aku memilih
sebagai pendekar pedang adalah aku sering bermain game seperti ini dulu dan aku
selalu memilih pendekar pedang jadi aku tidak harus bingung dalam mengatur statsku
karena kesalahan dalam mengatur stats adalah suatu yang fatal bayangkan saja
seorang pendekar pedang yang kelincahannya diatur sedikit sedangkan pertahanannya di set maksimal tentunya sangat akan
berpengaruh buruk dalam pertarungan.
Walaupun kukatakan
terlihat seperti game tapi ini adalah kenyataan setiap rasa, sentuhan, bau, dan
pemandangan terasa nyata, terdengar konyol dan tidak masuk akal memang tetapi
ini bukan dunia ku berasal, aku bersama 6000 player lain terpanggil dan
terjebak di dalam dunia ini dan hanya ada satu jalan untuk kembali yaitu
menyelesaikan kastil ini hingga lantai 100, terdengar mudah namun hal tersebut
bukanlah hal mudah disetiap lantai dijaga oleh bos yang menyerupai monster
raksasa dan kami hanya dapat mengalahkannya apabila level dan senjata kami
memadai untuk melawannya jadi sebelumnya kami harus menaikkan level dan mencari
uang dengan cara bertarung dengan monster monster di lantai tersebut tentu saja
taruhannya adalah nyawa, setiap serangan yang kami terima dari musuh akan
terasa sakit dan mengurangi hp bar kami, bila hp bar kami habis maka
kami akan mati tetapi kematian disini sangatlah berbeda dari duniaku sebelumnya
kematian disini merupakan kematian sempurna tanpa menghilangkan jejak memecah
menjadi partikel yang paling kecil lalu menghilang.
Kalau kalian meghargai
nyawa kalian lebih dari segalanya, bertahan dikota dan menunggu seorang
mengalahkan bos terakhir di lantai 100 itu adalah sebuah keputusan yang sangat bijaksana.
Disaat semua orang bertarung bersama rekan guild atau kelompok mereka
tetapi aku tetap memilih solo menerobos di garis terdepan seorang diri. Dulu
aku memang pernah mempunyai sebuah guild namun semua rekan ku tewas dan
satu dari mereka membunuh dirinya sendiri yang tersisa hanyalah diriku seorang
hal tersebut membekas dijiwaku dan membuatku tidak ingin bertarung bersama guilddan
juga membuatku tidak ingin jatuh cinta lagi, pada dasarnya aku hanyalah takut,
takut akan kehilangan orang orang yang berharga bagiku.
***
“Hey
Zakie, mau party bersamaku?” biarku tebak pemilik suara ini pasti adalah
si penombak cengkring Nopal, dia adalah kenalan pertamaku didunia ini tetapi
bukan berarti kami dekat mugkin lebih tepatnya dia merasa sok kenal dan sok
dekat.
“Tak
perlu nanti kau hanya akan jadi beban” jawabku skeptis.
“Pernahkah
kau sekali saja menganggapku ada, maksudku kenapa kau begitu dingin” balasnya,
sepertinya ia belum masih belum menyerah.
“Aku
adalah solo player aku tidak berparty dengan siapapun karena itu
hanya menggangguku”
“Oh ok
mungkin lain kali, suatu saat nanti kita pasti akan menjadi rekan party!”serunya
seakan masih berpikir positif setelah apa yang telahku katakan,lalu Nopal pun
berlalu dan lama kelamaan menghilang dibalik bayang bayang pepohonan hutan.
Percayalah
sebenarnya aku tak ingin menyakiti perasaan Nopal hanya saja rasa trauma itu
masih membekas begitu dalam dan aku takut itu hanya akan membuatku tidak fokus
dan membahayakan rekanku jadi kupikir itu adalah hal yang terbaik untuknya
maupun untukku.
Memang
benar apa yang dikatakan Nopal bahwa hari ini akan diadakan rapat untuk para frontliner,
hal ini memang sangat perlu dilakukan mengingat kami telah kehilangan begitu
banyak orang hingga saat ini dan mungkin dengan saling berkoordinasi dan
berkerja sama secara general dapat mereduksi jumlah dari perang panjang ini,
rapat ini nantinya akan dipimpin oleh guild terbesar di kastil ini yaitu
Kesatria Suci dan kabarnya pemimpin mereka pemilik level tertinggi di antara
kami,desas desusnya dia sudah mencapai level 60, mereka tidak mengetahui saja
tingkat levelku saat ini.
Dapat dikatakan sebuah progres memang karena
kami selama 6 bulan terakhir ini telah berhasil menapakkan kaki di lantai 50
itu berarti perjalanan kami tinggal setengah lagi untuk kembali ke dunia kami
semula tetapi apakah ini pantas dikatakan sebuah keberhasilan? Dengan
kehilangan sekitar 3000 orang untuk mencapai
lantai ini apakah semahal itukah harga dari “pulang”? semurah itukah nyawa
kami?
***
Rapat
frontliner diadakan di markas Kesatria Suci di lantai 49, di rapat
inilah aku bertemu dengannya, dia yang berhasil membuka hatiku untuk menerima
orang lain, dia yang berhasil membuatku mengenal kembali cinta, dengan rapier
(pedang tipis) tersarung di pinggangnya menegaskan bahwa ia juga adalah
pendekar pedang, baju zirah putih berlist merah yang merupakan seragam khusus
Kesatria Suci, nampak dari lencana di seragamnya dia merupakan salah satu
petinggi guild itu melangkahkan kaki dengan mantap ia memasukki dan
memimpin rapat ini sepertinya ia menggantikan ketua mereka.
“Selamat
siang para frontliner, di sini kita akan membahas tentang strategi dan
sintaksi dalam menyelesaikan lantai kastil ini, sebelum saya memulai rapat ini
apa ada pertanyaan?”
“Bisa
saya tahu nama anda?” tanyaku
“Nama
saya Ghina, saya pemimpin legiun 2 pasukan Kesatria Suci saya rasa cukup”
Ghina
namanya entah kenapa mata ku tak terlepas darinya dan aku sama sekali tidak
menghiraukan apa yang dibahas saat rapat lagipula aku adalah seorang solo
player aku tidak bertarung bersama rekan, ini aneh aku bukan tipe pria yang
mudah jatuh cinta apalagi dalam pandangan pertama tetapi gadis ini mampu
memikatku dalam hitungan menit saja.
“Tuan
berpedang hitam, apa anda masih bersama kami?” tanya Ghina
“Ah,
ya aku hanya memikirkan sesuatu” jawabku gelagapan
Rapat
pun berlangsung tenang nampaknya semua orang disini setuju untuk berkerjasama
dan bertarung dalam satu kelompok namun sepertinya aku masih sejalan dengan
mereka, dan sepertinya hal tersebut diketahui oleh Ghina yang menangkap hal
tersebut melalui raut mukaku seusai rapat ia pun menghampiriku.
“Tuan
berpedang hitam, sepertinya saya masih belum mengetahui nama anda”
“Eh,
ehm ya namaku Zakie” jawabku gugup
“Hahahah,
tidak usah kaku begitu, oh iya Zakie saya punya sesuatu yang harus dibicarakan
dengan mu?”
“Oh
ok, disini?”
“Bagaimana
kalau di cafe itu, saya rasa akan lebih baik disana” jawabnya seraya menarik
tanganku menuju cafe itu.
Kami
pun duduk berhadapan dan aku merasa kaku dan canggung tapi sebaliknya ia malah
terlihat santai tidak ada beban sedikitpun terlihat di raut mukanya.
“Ini
lebih terasa seperti kencan ya?”tanyanya memecah keheningan
“Eh?
Apa?” Sontak saja aku kaget dengan pertanyaannya
“Pffftt,
hanya bercana, bagaimana jika kita langsung ke topik intinya?” sebuah
pertanyaan untuk merubah suasana
“Hm,
baiklah”
“Jadi
Zakie atau boleh ku panggil dengan Si berpedang ganda?”
“Hah,
dari mana kau tahu itu?” tanyaku dengan penuh heran dan bercampur dengan rasa
terkejut.
“Sebenarnya
Saya sedang berada disana saat anda dengan sendirinya mengalahkan bos lantai
49, sebuah pertarungan yang heroik dan dramatis”
“Heroik?
Dramatis? Dari Hongkong, aku hampir saja tewas!”
“Tidak
usah merendah, saat anda megeluarkan skill dual sword itu anda bahkan
tak terkena damage sedikitpun”
“.....
Jadi langsung saja keintinya saja , apa yang kau inginkan dariku?”
“
Anda adalah laki laki yang peka juga ya, sebenarnya saya ingin meminta bantuan
dari anda, ada tempat yang harus saya kunjungi dan dengan level saya saat ini
sepertinya saya tidak mampu untuk melawan monster monster disana, saya yakin
dengan bersama anda saya dengan mudah mencapai tempat tersebut.”
“Baiklah,
tapi dengan dua syarat” balasku singkat
“Apa?” tanyanya seolah tak sabar
“Pertama
jangan bersikap formal denganku dan yang kedua jadikan tentang skillku
itu rahasia kecil dan hanya aku, kau, dan tuhan yang hanya tahu.”
“Baiklah,
kita bertemu besok pagi di kota lantai 48 ok?”
“Ya,
lau apa ini bisa ku sebut dengan kencan kedua kita?” tanyaku dengan sedikit
berharap
“Mungkin”jawabnya
singkat seraya tersenyum lalu menghilang dibalik pintu cafe ini.
Semua
telah kembali seperti sedia kala, Ghina sudah lama berlalu namun kenapa
jantungku berdegup kencang, lidahku terasa kelu, hatiku merasa rindu, pikiranku
menjadi tak menentu, oh tuhan inikah cinta?
“Ecieee
makan bareng sama cewek, selera mu tinggi juga ya zak langsung nggebet pemimpin
legiun” seseorang berkata dari ruangan sebelah, tak perlu melihat pemilik suara
ini cukup mendengar nya saja aku sudah dapat memastikan bahwa dia adalah Nopal
“Bukan
ursanmu” jawabku dingin
“Hahahah
santai saja jatuh cinta itu wajar kok teman, ada masa masanya memang dimana kita akan tertarik dengan lawan jenis”
balasnya dengan membuat raut wajah seperti orang bijak
“Iya
ya, sepertinya jatuh cinta itu wajar” gumamku pelan
“Hm
sudah kuduga, kau memang mencintainya tak usah dipungkiri, jangan lupakan
sahabat pertamamu ini jika kau sudah dekat nanti dengannya ya!”katanya sambil
berjalan menuju keluar ruangan.
Ah
apa benar yang dikatakan Nopal ya, sepertinya aku telah jatuh cinta tapi
akankah rasa ini berbalas entahlah yang harus kufokuskan adalah bagaimana cara
menyelesaikan dunia ini terlebih dahulu saat aku kembali nanti mungkin baru aku
akan memikirkan tentang urusan cinta, ya semoga.
***
Di
bawah jam raksasa ku menunggu dia datang, jam ini terletak ditengah tepat
ditengah kota karena ia tidak memberi tahu lokasi spesifiknya dan aku juga lupa
untuk bertanya maka kuputuskan untuk menunggunya disini selain bentuknya yang
mencolokjam ini juga merupakan icon dari lantai 48 jadi setiap ada orang yang
datang biasanya mengunjungi jam ini.
Benar saja
setelah 15 menunggu yang dinanti pun datang juga, sepertinya aku harus mulai
mempercayai feelingku, hari ini Ghina cantik seperti terakhir kali aku
melihatnya walaupun dengan seragam tempur lengkap ia terlihat anggun dan
menawan, gadis rapier itu lalu berlari mendekati ku.
“Maaf ya Zak, tadi ada urusan bentar kamu udah lama
nunggu?”
“Ah nggak juga
kok paling baru 2 menitan”jawabku dengan sedikit tidak jujur
“baiklah kalu
begitu kita langsung saja, sebelum matahari terbenam kita harus kembali ke kota
bukan?”
“Ya kau benar,
jadi kemana kita akan pergi?”
“Kita akan
pergi ke utara lantai 48 “
“Hutan
larangan?” tebakku
“Ya dan
sepertinya Zakie tak sedikitpun terkejut?” tanyanya
“Ah tidak juga
kalau begitu ayo berangkat” balasku seraya melangkahkan kaki kearah yang akan
dituju.
Perjalanan ini
tidak akan berjalan mudah hutan larangan merupakan bukan sekedar nama ada
sebanya kenapa hutan itu dinamakan hutan larangan, monster monster disana
berlevel lebih tinggi daripada yang seharusnya dan juga memiliki skill khusus
seperti racun, stunt, dan serangan jarak jauh ditambah lagi bila
melewatinya saat malam maka akan susah untuk mencari jalan keluar karena akan
menjadi sangat gelap dan mencari jalan keluar menjadi lumayan musatahil untuk
dilakukan, aku sudah lumayan sering pergi kesana, hutan larangan adalah basisku
untuk menaikkan level atau leveling dan hal tersebut semakin mudah
karena monster disana berlevel tinggi yang akan memberikan poin exp lebih
banyak ditambah lagi jarang ada orang yang mau pergi kesana jadi aku tidak
harus berebut monster dengan orang lain.
Matahari
sudah berada diatas kepala menunjukkan bahwa hari telah siang, walaupun didalam
kastil kami tetap dapat melihat dan merasakan matahari jadi dunia ini hanya
dari luarnya saja terlihat seperti kastil di dalamnya seperti miniatur dunia
lamaku.
Saat di perjalanan tak banyak yang kami
obrolkan kami juga sebisa mungkin menghindari monster monster agar tidak
menghabiskan banyak waktu tetapi terkadang ada juga monster yang agresif yang
langsung menyerang player saat mereka mendekat.
“Badak
ini berlevel 70, apa kau yakin mau melawannya?” tanya Ghina padaku
“Santai,
ini makananku sehari hari”jawabku dengan sedikit sombong
“Hati
hati kalau begitu”
“Ashiaap”
balasku singkat
Aku
pun mengambil ancang ancang lalu berlari sepenuh tenaga menuju monster badak
itu, nampaknya aku tak perlu mengeluarkan skill dual swordku, sebagai
balasannya badak itu pun meraung lalu bersiap untuk menandukku, sebelum ia
mendaratkan tanduknya tepat di perutku aku melompat sambil menebas leher dari
badak itu walaupun belum mati setidaknya serangan itu memberikan critical
hit sehingga menyisakan setengah dari hp barnya, dalam keadaan ini kumanfaatkan
untuk mengeluarkan skill slash badak itu pun meraung kencang hingga
akhirnya berubah menjadi fragmen fragmen kecil yang berhamburan atau pendeknya
mati.
“Seperti
yang diharapkan dari si dual sword” puji Ghina
“Tak
perlu menjadai seorang dual sword untuk melakukan itu, kaupun bisa”
Ghina
tak menjawab hanya mengukir senyuman sebagai balasnya, kami pun mulai masuk
kedalam Hutan Larangan.
“Jadi
apa keperluan mu di...” belum selesai aku berbicara Ghina sudah berhamburan
menuju sebuah kamp yang hancur, nampaknya pernah ada yang mencoba bermalam
disini lalu diserang kawanan monster
“Ada
apa?” tanyaku penasaran
Dia
tak menjawab mungkin karena ia sibuk mencari sesuatu dibalik bekas perkemahan
ini, namun sepintas dapat kutangkap kesedihan tersirat di wajanya tampaknya ia
sedang menahan tangis, ternyata seorang pemimpin legiun bisa nangis juga
pikirku
Aku
pun membiarkannya melakukan hal tersebut sembari mengawasi sekitar kalau kalau
ada monster yang datang, namun tiba tiba Ghina pun jatuh terduduk lesu
nampaknya ia telah menemukan yang ia cari lalu Ghina pun menangis terisak air
matapunuh membanjiri pipinya dan akupun hanya diam ku pikir dia perlu waktu
sebelum siap menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, setelah beberapa saat dia
pun muali tenang mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan apa yang
sebenarnya terjadi
“Ghin,
kamu gak papa?”
“Zak,
kenapa kamu memilih menjadi seorang solo player? Bukankah kau tahu itu
sangat beresiko”
“Ya aku tau itu
beresiko tapi aku punya pengalaman buruk saat aku bertarung bersama guild”
“Kenapa?”tanyanya
lagi
“Aku kehilangan
mereka semua saat pertarungan, sebenarnya tidak semua, aku berhasil meloloskan
diri bersama satu orang dari guild namun dia tidak bisa menerima
kenyataan ini ia lalu memilih untuk bunuh diri, dan hal itu membekas di diriku
aku takut tidak bisa melindungi semua orang atau lebih tepatnya aku takut untuk
kehilangan”
“Kita punya
cerita yang hampir sama, perkemahan ini adalah kemah aku dan teman teman ku
dulu, kami berteman sejak pertama kali datang ke dunia ini, saat kami mencapai
level 50 dengan sombonngnya kami pergi ke Hutan Larangan untuk leveling padahal
kami tidak punya informasi tentang bahaya apa saja di dalam hutan ini pada
awalnya semua berjalan lancar meskipun dengan susah payah kami berlima yang terdiri dari 2 pendekar
pedang, 1 penombak, 1 perisai dan 1 pemanah dapat mengalahkan monster yang
berlevel hampir sama dengan badak yang kau lawan seorang tadi, kesalahan kami
adalah saat hari mulai petang dan karena kami sudah terlalu lelah untuk pulang
kami pun memutuskan untuk membuat perkemahan dan menginap di hutan ini, saat
hampir dari kami semua terlelap kami
dikepung oleh sekumpulan monster penghuni hutan ini dan lalu .....” Ghina tak
mampu untuk melanjutkan ceritanya tangisnya pun pecah sedari tadi kesedihan
yang ia bendung keluar, memang menyakitkan untuk mengenang peristiwa yang tidak
ingin kita ingat
“Kau tidak
perlu melanjutkannya jika kau tak ingin” Kataku
“Tidak, biarkan
aku melanjutkannya, disaat kami mulai tersudut dan kami hanya memiliki satu
kristal teleportasi, semua menolak menggunakan kristal itu semuanya sepakat
akan bersama hingga akhir, namun disaat kami mulai kehilangan teman satu
persatu seseorang dari kami mulai mengaktifkan kristal teleportasi kupikir dia
yang akan berteleportasi jadi aku bergerak kedepannya untuk melindunnya tapi
aku salah disaat saat kristal itu siap digunakan dia melemparnya ke arahku..,
hanya aku yang selamat dan itu hanya menjadi beban bagiku kau pasti juga
merasakannya kan Zak?”
“...”
“Dan ini adalah
yang kucari” Seraya menunjukkan sebuah liontin
Sebuah liontin
indah berwarna hijau dan terdapat beberapa pahatan nama disana yaitu Ghina,
Dya, Ledif, Gea dan Hanan dapat ditebak itu pasti nama dari teman teman Ghina
“Ini adalah
benda yang sangat berharga bagiku dan satu satunya kenang kenangan dari mereka
yang tersisa” lanjutnya
“Apa kau tidak mengalami trauma yang seperti ku alami?”
“Pada awalnya juga begitu namun pilihan menjadi seorang solo player sangatlah egois, aku sudah
diselamatkan oleh teman temanku dan bila aku menjadi seorang solo player aku hanyalah mementingkan
diriku sendiri sedangkan banyak diantara kita yang masih belum memiliki level
diatas 40 maka ku putuskan untuk bergabung dengan guild terbesar di dunia ini agar sekiranya aku dapat membantu yang
lain”
Jawaban Ghina bagaikan sebuah tamparan keras tepat diwajahku,
selama ini aku hanya memikirkan diriku saja dan aku lupa bahwa seluruh orang
disini adalah sama sepertiku butuh penghidupan juga butuh makanan juga butuh
uang juga untuk bertahan hidup sedangkan aku yang dikaruniai skill khusus malah dengan asyik berburu
sendirian bertingkah seolah akulah pahlawannya.
“Maaf bila itu membuat Zakie tersinggung” tambahnya
“Tak apa kurasa Ghina juga ada benarnya”
Ghina juga mengalami apa yang pernah ku alami tapi dia tidak
menjadi anti sosial sepertiku ya kurasa aku harus berubah
“Baiklah, tujan kita kesini telah tercapai ayo pulang” Kata Ghina
Pulang? Rasanya hari ini baru saja dimulai dan aku baru saja
mengenalmu lebih dekat tak bisakah hari ini lebih panjang lagi.
Disepanjang jalan
kami lebih banyak diam dan tak berbicara dan sesuatu yang aneh pun mulai
muncul, suara raungan terdengar dimana mana sepertinya kami dikepung, ternyata
monster monster disini sangat peka terhadap kehadiran player, dalam sekejap sudah ada 5 manusia kadal menghalangi jalan
kami, manusia kadal ini berlevel 75 bukan lawan yang cukup mudah namun tidak
ada pilihan selain bertarung.
“Ghin, aku akan
mengulur waktu, gunakan kristal teleportasi untuk pergi dari sini!”
“Enggak, nggak
akan biarkan aku menemanimu bertarung walaupun aku baru berlevel 60 ku yakin rapier ku akan cukup berguna”
Disatu sisi aku
harus focus dengan musuh musuh yang siap membunuh kami namun disisi lain kata
kata yang Ghina ucapkan membuatku harus bertarung dengan perasaan tidak
karuanku saat ini apakah ini yang disebut baper?
Satu manusia kadal
dating mendekat dengan sigap ku keluarkan kedua pedangku dan aku sedang dalam
mode pedang ganda, manusia kadal itu mulai mengayunkan pedangnya lalu kutangkis
dengan salah satu pedangku dan satunya lagi ku ayunkan tepat kelehernya
berharap mendapat critical attack dan
langsung dapat membunuh kadal sialan ini, dan ya memang hari keberuntunganku
manusia kadal itupun terpenggal lalu mati namun pertempuran baru saja dimulai 4
manusia kadal mulai mendekat dari arah yang berlawanan tak ada pilihan lain aku
harus berbagi arah dengan Ghina
“Ghin, tahan
sebelah kanan aku ambil sebelah kiri” pintaku
“Serahkan padaku”
Dua manusia kadal
mendekat kearahku bukan situasi yang gawat aku sudah pernah melawan mereka 4
sekaligus, namun disini aku harus membagi fokusku dengan Ghina, aku
menghawatirkannya walaupun dia seorang rapier
ulung namun rapier bukan alat yang tepat dalam menghadapi manusia kadal, hanya
ada satu cara aku harus menyelesaikan
bagianku dengan cepat lalu membantu Ghina menyelesaikan bagiannya.
Pedang kami mulai
beradu kedua manusia kadal ini menyerang secara bersamaan dengan pedang gandaku
maka akan lebih mudah menahan serangan mereka lalu aku mengambil jarak beberapa
langkah dan mulai berlari ke arah kedua kadal dan kugunakan skill andalanku yaitu war dance, skill ini efektif digunakan dalam menghadapi banyak musuh dengan
mengayunkan pedang tanpa henti yang membentuk suatu pola mungkin karena itu
disebut dengan tarian perang tapi itu tidak mampu memusnahkan kedua manusia
kadal ini, seolah sudah mengetahui kekuatanku manusia kadal ini berpencar dan
menyerangku dari arah yang berbeda, serangan serangn mereka mulai datang
dentingan dentingan suara pedang terdengar nyaring ditelinga kufokuskan satu
serangan kearah manusia kadal yang paling sedikit hp barnya dan satu tusukan berhasil kudaratkan tepat diperut manusia kadal itu dan manusia
kadal itupun mati tetapi serangan ini membuatku lengah manusia kadal yang
satunya menyerangku dari belakang dan itu membuat hp barku berkurang lalu kubalas dengan tebasan menyilang di
badannya dan kadal itu pun menyusul rekannya yang baru ku kalahkan
Aku melupakan satu
hal bahwa sekarang aku tidak bertarung sendiri, benar saja tebakanku Ghina
dalam posisi tersudut aku bias melihat hp
barnya memerah satu ayunan pedang mengarah tepat ke arahnya dengan cepat
aku berari dan menepisnya namun aku tidak benar menepisnya, aku hanya menahanya
dengan pergelangan tanganku akibatnya aku kehilangan tangan kiriku kugunakan
tangan kananku menusuk perut manusia kadal itu dan 1 lagi manusia kadal
berhasil dikalahkan, untuk kesekian kalinya aku lengah masih ada satu manusia
kadal tersisa dan tanpa kusadari sebilah pedang tepas menembus di perutku
dengan segenap kekuatan yang tersisa ku tusukkan kembali pedangku ke jantungnya
dan mari kita lihat siapa yang akan menjadi fragmen fragmen mungil lebih dulu, hp bar manusia kadal itu habis aku
menang ya aku menang dengan menahan rasa yang teramat sangat sakit aku mencoba
mengeluarkan ramuan pemulihan, dengan ramuan ini aku bisa mendapatkan kembali
tangan kiriku dan memulihkan hp barku
dan kulihat Ghina pun melakukan hal yang sama
“Maaf Zak, Aku
baru saja hampir membunuhmu semua ini salahku” ia pun mulai terisak
“Tak mengapa, aku
melakukannya karena aku tak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi”
Tangis Ghina pun
berhenti dan ia terkejut mendengar apa yang kukatakan mukanya berubah menjadi
merah dan akupun sendiri tak sadar dengan apa yang kukatakan butuh beberapa
saat sampai aku menyadari apa yang sebenarnya kukatakan dan aku pun tak
mengetahui raut muka ku sudah seperti apa sekarang, keadaan berubah menjadi
canggung
“Emm sepertinya
kita harus melanjutkan perjalanan hari sudah mulai sore” kataku memecah
keheningan
“Iya”
Tepat saat malam
tiba kami pun sudah berada dikota
“Zakie trimakasih
telah membantuku hari ini”
“Ah iya no problem”
Aku pun mulai
melangkahkan kaki ku ke arah penginapan terdekat tiba tiba
“Zakie, mau nggak
kamu jadi rekan party ku?”
“Eh, bukannya kamu
sudah ada guild”
“Guild tak membatasi party anggotanya, jadi bagaimana?”
“Baiklah kenapa
tidak” jawabku tanpa ragu lagi
“Ku tunggu
petualangan selanjutnya”
“Maksudmu kencan
selanjutnya kan” Candaku
Tak menjawab, hanya senyum yang sangat indah
terukir kembali diwajahnya dah yah aku yakin aku bakal merindukan senyum itu
kami pun berpisah tapi ku yakin ini hanya sementara
Hari hari
selanjutnya terasa sangat cepat berlalu hubungan aku dan Ghina semakin dekat
kami sering leveling, berburu atau
hanya sekedar berkeliling kota-kota yang baru dijelajahi kami juga turut serta
dalam setiap pertarungan mengalahkan bos lantai, hubungan rekan party kami tak ada bedanya dengan apa
yang disebut diduniaku dengan pacaran dan aku pun semakin jatuh dalam perasaan
entah berbalas atau tidak ini.
Tak terasa telah
12 bulan berlalu dan kami sudah dilantai 99 satu lantai lagi menuju kepulangan
kami, aku merasa antara senang dan sedih, senang karena akan segera pergi dari
dunia ini dan sedih karena harus berpisah dengan Ghina walaupun kami berdua
dari dunia yang sama tetapi bisa saja Ghina dari waktu yang berbeda atau dunia
paralel dan adalah hampir mustahil untuk kami bertemu kembali di dunia asal kami.
Hari penaklukan
bos lantai 99 pun tiba, jikalau biasanya dalam penaklukan bos lantai hanya
pasukan garis depan yang bertarung namun hari ini semua player yang tersisa sebanyak 1000 orang berkumpul dan menyatukan
kekuatan untuk mengalahkan bos terakhir, dan ditengah lapangan yang menjadi
basis kami saat ini aku sedang berusaha mencari Ghina dan aku pun teringat
bahwa aku masih membentuk party dengannya
jadi aku bisa mengirimkan pesan untuk bertemu, setelah pesan terkirim samar
samar ada suara memanggilku suara yang kutunggu tunggu datangnya.
“Hai zak!”
“Eh halo Ghin,
keknya gak sabar laginih mau pulang?”
“Iyaa” jawabnya
dengan penuh semangat
Aku pun hanya
membalas dengan senyuman dan berharap seandainya dia mengerti apa yang ku
rasakan.
“Eh itu sepertinya
yang lain sudah mulai bersiap aku juga harus kembali ke barisan ku, Zakie juga
semangat kita pulang bareng bareng ya?” katanya sambil berlalu
“Iya….semoga”
lirihku dan aku yakin ia tak mendengarnya
Kami tidak di
barisan yang sama Ghina dibarisan ke 2 bersama pendekar pedang lainnya
sedangkan aku di baris pertama bersama pengguna perisai entah kenapa aku
dimasukkan ke barisan ini entah mereka kekurangan pengguna perisai atau mungkin
mereka sudah mengetahui skill khususku.
Kami pun memasuki
ruangan bos lantai berada, sesuai informasi bos yang akan kami lawan adalah
monster Taurus jumbo bersenjata pedang dua tangan dengan tingkat level 100 ya
level maksimum sama sepertiku, walaupun dari kami bisa dihitung dengan jari yang memiliki level
setara dengan bos namun kami sangat unggul dalam kuantitas 2000 melawan 1 ini
akan menjadi pertempuran terakhir kami.
Sesuai rencana saat
monster ini menyerah batalyon 1 menahan serangan nya, sebanyak 199 pengguna
perisai dan 1 pengguna pedang yaitu aku menahan ayunan pedang raksasa ini lalu
saat kami telah berhasil menahannya diantara tenggang waktu yang diberikan
pasukan kedua terdiri 100 pengguna rapier,
250 pengguna pedang satu tangan, 50 pengguna pedang dua tangan, 100 penombak datang
menyerbu si Taurus dan setelah pasukan batalyon ke 2 melancarkan aksinya
pasukan 3 sebagai penyerang jarak jauh menyerang sekaligus membuka jalan bagi
batalyon 1 dan 2 untuk mengambil jarak dari bos, sebuah strategi yang mudah
bukan dan setiap kali siklus ini berlangsung kami hampir tidak kehilangan orang
kecuali beberapa pengguna perisai yang tak kuat menahan ayunan pedang dari bos
dan beberapa pasukan batalyon ke 2 yang kurang beruntung yang terkena gerakan
reflek raksasa itu saat terkena serangan.
Keadaan berbalik
saat hp bar Taurus ini berubah
menjadi setengah, dia mengubah senjata dan pola serangannya semula hanya
menggunakan satu pedang kini dia menggunakan dua pedang jadi saat pasukan
pertama menangkis serangan dari bos ayunan pedang yang satu lagi menyusul lalu
membuyarkan formasi pasukan barisan 1 dapat dipastikan kami telah kehilangan
hampir seluruh dari pasukan batalyon1 lalu pasukan batalyon 1 yang tersisa
bergabung dengan pasukan batalyon 2 dan pasukan batalyon2 mengambil alih peran
batalyon 1 dan memiliki peran ganda menahan lalu menyerang.
Kondisi tidaklah
kian membaik malah bertambah parah hal serupa juga terjadi pada batalyon 2 dan
diperparah leparan pedang Taurus yang mengarah ke batalyon 3 sehingga
membuyarkan formasi mereka ditengah kekacauan ini kami perlu mundur dan
memulihkan diri lalu menyusun ulang formasi namun hal tersebut butuh waktu dan
sepertinya pemimpin umum dari seluruh batalyon akan mengulur waktu untuk kami
dia maju dengan sendirinya dengan bersenjata sebilah pedang dan sebuah perisai
sambil berteriak “Mundur ! aku akan ulur waktu”
walaupun jenis senjata yang dibawa oleh pemimpin sangat cocok untuk
melawan senjata si sialan itu namun perbedaan level yang mencolok tampaknya
menjadi kelemahan yang berakibat fatal, pak pemimpin memang berhasil menahan
ayunan pedang pertama dari monster itu namun ayunan kedua berarah horizontal
dari atas kepalanya berhasil membuat
perisai pak pemimpin terbelah dan sekaligus membelah tubuhnya menjadi dua bagian
sungguh akhir yang teragis hal ini tentu saja menurunkan daya juang dari
seluruh player, sedangkan mataku terus mencari keberadaan Ghina dan
syukurlah dia masih ada disana sedang membantu menyembuhkan orang orang yang
sedang sekarat.
Memang saat ini
kondisi kami sedang terpuruk, banyak player
yang telah putus asa dan tak mampu lagi mengangkat senjatanya dan disisi
lain masih banyak player yang sekarat dan butuh bantuan.
Kami sudah sedekat ini dengan kemengangan akankah kami semua akan berakhir
disini , disaat saat genting ini teringat olehku senyuman Ghina sebelum kami
pergi kemari, dia sangat ingin sekali pulang dan lelaki sejati mana yang mau
mengecewakan wanitanya, aku sudah pernah lari dari ketakutanku dan hal tersebut
membuatku menyesal untungnya Ghina hadir dan menyadarkanku akan hal itu dan
sekaranglah adalah waktu yang untukku menebus kesalahanku, aku harus
menyelesaikannya karena skill dual sword ini
bagaikan amanah yang berat bagiku untuk menamatkan dunia ini, wahai tuhan
kenapa kau memilih ku?
Dengan tekat bulat
sebulat tahu bulat ku berlari menuju Taurus yang sedang meraung raung seolah
tertawa melihat penderitaan yang kami alami, dengan perimeter 6 meter kubuat
segel yang mengelilingi ku dan Taurus sialan ini agar ia tak bisa menyerang
pasukan yang lain, segel ini setidaknya bertahan selama satu jam kedepan dampak
negatifnya adalah aku tak bisa mendapat bantuan dari yang lain tapi tak apa
bagaikan penebusan dosa ku hal ini telah kuputuskan dengan segenap keyakinaku
“Sekarang hanya akan ada antara kau dan aku banteng jelek”.
Ku keluarkan kedua
pedangku dari masing masing sarungnya sepintas aku dapat melihat sorakan
sorakan dari luar segel tampaknya mereka memberiku semangat hal ini makin
membakar semangatku, dengan sombongnya Taurus itu mengeluarkan gestur yang
berarti majulah kapan pun kau siap, ku hunuskan kedua pedangku dan aku mulai
bergerak maju dentingan suara pedang beradu mulai terdengar duel antara hidup
dan mati baru saja dimulai, aku terus saja menangkis serangan dari raksasa ini
dan sialnya belum ada kesempatan untukku menyerang dan satu momentum dimana
monster itu termudur akibat beradu ayunan pedang dan itulah kesempatan ku
dengan berteriak menggertak ku keluarkan skill
baruku 100 slash dengan serangan
dengan mengayunkan pedang bertubi tubi yang membentuk suatu pola dan
menimbulkan efek stunt sehingga musuh
tak bisa menghindar tetapi ternyata stunt
tidak berpengaruh pada badak jelek ini seranganku berkali kali di intrupsi
dengan pukulan karena seranganku sebelumnya mementalkan senjatanya dan kami pun
saling bertukar serangan aku dengan ayunan pedangku dan dia dengan tinjuannya
harus ku akui ini lumyan sakit kucoba untuk mempercepat ayunan pedangku agar
serangan yang ia terima lebih banyak daripada serangan yang ku peroleh dan
untuk sekali lagi mari kita lihat siapa dulu yang akan habis hp barnya, monster itu lebih dulu pecah menjadi kepingan
fragmen fragmen sebelum mendaratkan pukulan kesekiannya dan aku pun tak melihat warna lagi di hp barku apa aku juga akan mati ternyata
tidak sepertinya masih ada satu garis merah tipis disudut hp barku lagi lagi keberuntungan masih setia disisiku.
Segel yang kubuat
pun mulai hancur dan dapat semua orang menyorakiku dan mereka terlihat sangat
bahagia, Ghina pun berhamburan mendekatiku ia juga terisak dan menamparku
seraya berkata “Apa gunanya ini semua jika kamu mati” dan akupun hanya menjawab
dengan senyuman yang tulus dari lubuk hatiku akhirnya ada juga seorang wanita
selain ibuku yang menangis untukku.
Dunia ini pun mulai menghancurkan dirinya sendiri dan kami mulai
memutih dan semakin menjadi transparan, mungkin ini cara tuhan memulangkan
kami.
“Sudah berakhirya ?” Tanya
Ghina
“Ya sepertinya begitu” Jawabku, entah mengapa rasa sesak mulai
muncul dalam dada ini
“Jadi apa ini artinya perpisahan?”
Tanyanya sekali lagi
Pertanyaan itu
membuat hati ini semakin tersayat, kenapa selalu ada perpisahan setelah
pertemuan dan akupun tak ingin menyesal maka akhirnya kuberanikan diriku menyampaikan
apa yang seharusnya sudah lama kusampaikan
“Ghin, satu pernyataan dan pertanyaan terakhir”
“Iya?”
“Aku
mencintaimu”kataku tanpa keraguan sedikitpun
“Ya aku tahu itu
dan aku juga mencintaimu Zak” jawabnya sambil memandang mataku
“Pertanyaannya
diantara 1 berbanding satu juta kemungkinan bila kita bertemu kembali baik
dikehidupan yang sekarang ataupun yang mendatang maukah kamu menikah denganku”
Ghina pun tak
menjawab sekali lagi ia tersenyum sambil menangis lalu ia menganggukkan
kepalanya yang berarti setuju, senyum itu pasti akan kurindu.
“Diantara berjuta masa
dan dunia paralel, adakah satu hal yang dapat meyakinkanku bahwa kita akan
bertemu lagi?” Tanya Ghina
Aku hanya
tersenyum dan menggelengkan kepala “Tidak ada, Karena ini hanyalah untaian
takdir tak ada yang akan tahu”
“Ya ini hanya
untaian takdir”
“Aku akan
merindukanmu” tambahku
“ Dan sekarangpun
aku mulai merindu” balasnya
Tubuh kami pun
makin menghilang dan makin tidak terlihat menyadari waktu yang kami punya tak
lama lagi aku pun mulai mengucapkan kalimat perpisahan
“Senang mengenalmu
sampai jumpa dan sampai bertemu dalam satu berbanding sejuta kemungkinan”
“Iya sampai jumpa
dan jangan lupakan aku, kita mungkin akan bertemu kembali suatu saat nanti, bye
bye Zak !!!”
Semuanya terlihat
putih dan aku merasa diriku mengambang entah dimana dan tiba tiba penglihatanku
menjadi hitam dan… gubrak seseorang
telah menghentak meja
“Zakeee bangun!
tidur terus ya pelajaran bapak” suara ini, sudah lama sekali tidak kudengar
berapa lama aku pergi, hampir saja diriku lupa siapa pemilik suara khas ini
“Ah idak pak baru
jugo 5 menit” balasku walaupun sebenarnya aku masih belum menyadari apa yang
terjadi
“Nak ngolai bapak
kamu ya?” Tanya pak Hendri dengan bahasa dan logat Palembang yang bercampur
bahasa Indonesia
Rupanya aliran
waktu di dunia asalku tak bergerak selama aku pergi atau aku dipulangkan disaat
yang sama aku pergi entahlah aku juga tidak tahu yang jelas sekarang aku sudah
pulang dan bagaimana denganmu Ghina?
TAMAT