Sunday, 27 October 2019

cerpen bebas kopas


Temukan Pedangmu di Dunia ini


Apakah aku hanyalah seorang idiot yang berkhayal akan menyelamatkan semua orang dengan kekuatannya?
Saat aku berjalan menuju pintu kelas dengan senyum tipis yang mencerca diriku sendiri, kuingat kembali hari itu. Dua tahun yang lalu. Saat semuanya berakhir dan dimulai.
***

Kastil 100 lantai yang terbuat dari batu dan besi mengambang dengan bebas di langit yang tak berbatas itulah keseluruhan dari dunia ini, didalam kastil ini terdapat kota dan desa kecil di setiap lantainya, disini kami bagaikan player di dalam game MMORPG, kami harus terus bertarung melawan monser untuk tetap hidup dan kami harus mengalahkan bos disetiap lantainya untuk melaju ke lantai berikutnya, saat membunuh monster dan bos kau akan mendapatkan uang, barang dan exp untuk meningkatkan levelmu tetapi kekuatanmu tidak hanya bergantung dalam skill, level juga berpengaruh terhadap total kekuatanmu.
Hal yang tak kalah  paling penting adalah setiap dari kami memilih tugas mulia kami saat pertama kali datang ada beberapa pilihan dalam tugas mulia diantaranya pemanah, penombak, pendekar pedang, tombak dan lain lain, dan aku memilih pendekar pedang kurasa itu bukan pilihan yang buruk karena berbeda dari dunia ku sebelumnya disini kita dapat mengatur perkembangan dari kemampuan kita, kita dapat mengaturnya di stats dan untuk mengembangkan kemampuan kita memerlukan poin level yang didapatkan setelah level up, alasan lain aku memilih sebagai pendekar pedang adalah aku sering bermain game seperti ini dulu dan aku selalu memilih pendekar pedang jadi aku tidak harus bingung dalam mengatur statsku karena kesalahan dalam mengatur stats adalah suatu yang fatal bayangkan saja seorang pendekar pedang yang kelincahannya diatur sedikit sedangkan pertahanannya di set maksimal tentunya sangat akan berpengaruh buruk dalam pertarungan.
Walaupun kukatakan terlihat seperti game tapi ini adalah kenyataan setiap rasa, sentuhan, bau, dan pemandangan terasa nyata, terdengar konyol dan tidak masuk akal memang tetapi ini bukan dunia ku berasal, aku bersama 6000 player lain terpanggil dan terjebak di dalam dunia ini dan hanya ada satu jalan untuk kembali yaitu menyelesaikan kastil ini hingga lantai 100, terdengar mudah namun hal tersebut bukanlah hal mudah disetiap lantai dijaga oleh bos yang menyerupai monster raksasa dan kami hanya dapat mengalahkannya apabila level dan senjata kami memadai untuk melawannya jadi sebelumnya kami harus menaikkan level dan mencari uang dengan cara bertarung dengan monster monster di lantai tersebut tentu saja taruhannya adalah nyawa, setiap serangan yang kami terima dari musuh akan terasa sakit dan mengurangi hp bar kami, bila hp bar kami habis maka kami akan mati tetapi kematian disini sangatlah berbeda dari duniaku sebelumnya kematian disini merupakan kematian sempurna tanpa menghilangkan jejak memecah menjadi partikel yang paling kecil lalu menghilang.

Kalau kalian meghargai nyawa kalian lebih dari segalanya, bertahan dikota dan menunggu seorang mengalahkan bos terakhir di lantai 100 itu adalah sebuah keputusan yang sangat bijaksana. Disaat semua orang bertarung bersama rekan guild atau kelompok mereka tetapi aku tetap memilih solo menerobos di garis terdepan seorang diri. Dulu aku memang pernah mempunyai sebuah guild namun semua rekan ku tewas dan satu dari mereka membunuh dirinya sendiri yang tersisa hanyalah diriku seorang hal tersebut membekas dijiwaku dan membuatku tidak ingin bertarung bersama guilddan juga membuatku tidak ingin jatuh cinta lagi, pada dasarnya aku hanyalah takut, takut akan kehilangan orang orang yang berharga bagiku.

***

            “Hey Zakie, mau party bersamaku?” biarku tebak pemilik suara ini pasti adalah si penombak cengkring Nopal, dia adalah kenalan pertamaku didunia ini tetapi bukan berarti kami dekat mugkin lebih tepatnya dia merasa sok kenal dan sok dekat.
            “Tak perlu nanti kau hanya akan jadi beban” jawabku skeptis.
            “Pernahkah kau sekali saja menganggapku ada, maksudku kenapa kau begitu dingin” balasnya, sepertinya ia belum masih belum menyerah.
            “Aku adalah solo player aku tidak berparty dengan siapapun karena itu hanya menggangguku”
            “Oh ok mungkin lain kali, suatu saat nanti kita pasti akan menjadi rekan party!”serunya seakan masih berpikir positif setelah apa yang telahku katakan,lalu Nopal pun berlalu dan lama kelamaan menghilang dibalik bayang bayang pepohonan hutan.
            Percayalah sebenarnya aku tak ingin menyakiti perasaan Nopal hanya saja rasa trauma itu masih membekas begitu dalam dan aku takut itu hanya akan membuatku tidak fokus dan membahayakan rekanku jadi kupikir itu adalah hal yang terbaik untuknya maupun untukku.
            Memang benar apa yang dikatakan Nopal bahwa hari ini akan diadakan rapat untuk para frontliner, hal ini memang sangat perlu dilakukan mengingat kami telah kehilangan begitu banyak orang hingga saat ini dan mungkin dengan saling berkoordinasi dan berkerja sama secara general dapat mereduksi jumlah dari perang panjang ini, rapat ini nantinya akan dipimpin oleh guild terbesar di kastil ini yaitu Kesatria Suci dan kabarnya pemimpin mereka pemilik level tertinggi di antara kami,desas desusnya dia sudah mencapai level 60, mereka tidak mengetahui saja tingkat levelku saat ini.
 Dapat dikatakan sebuah progres memang karena kami selama 6 bulan terakhir ini telah berhasil menapakkan kaki di lantai 50 itu berarti perjalanan kami tinggal setengah lagi untuk kembali ke dunia kami semula tetapi apakah ini pantas dikatakan sebuah keberhasilan? Dengan kehilangan sekitar 3000 orang untuk mencapai lantai ini apakah semahal itukah harga dari “pulang”? semurah itukah nyawa kami?     

***

            Rapat frontliner diadakan di markas Kesatria Suci di lantai 49, di rapat inilah aku bertemu dengannya, dia yang berhasil membuka hatiku untuk menerima orang lain, dia yang berhasil membuatku mengenal kembali cinta, dengan rapier (pedang tipis) tersarung di pinggangnya menegaskan bahwa ia juga adalah pendekar pedang, baju zirah putih berlist merah yang merupakan seragam khusus Kesatria Suci, nampak dari lencana di seragamnya dia merupakan salah satu petinggi guild itu melangkahkan kaki dengan mantap ia memasukki dan memimpin rapat ini sepertinya ia menggantikan ketua mereka.
            “Selamat siang para frontliner, di sini kita akan membahas tentang strategi dan sintaksi dalam menyelesaikan lantai kastil ini, sebelum saya memulai rapat ini apa ada pertanyaan?”
            “Bisa saya tahu nama anda?” tanyaku
            “Nama saya Ghina, saya pemimpin legiun 2 pasukan Kesatria Suci saya rasa cukup”
            Ghina namanya entah kenapa mata ku tak terlepas darinya dan aku sama sekali tidak menghiraukan apa yang dibahas saat rapat lagipula aku adalah seorang solo player aku tidak bertarung bersama rekan, ini aneh aku bukan tipe pria yang mudah jatuh cinta apalagi dalam pandangan pertama tetapi gadis ini mampu memikatku dalam hitungan menit saja.
            “Tuan berpedang hitam, apa anda masih bersama kami?” tanya Ghina
            “Ah, ya aku hanya memikirkan sesuatu” jawabku gelagapan
            Rapat pun berlangsung tenang nampaknya semua orang disini setuju untuk berkerjasama dan bertarung dalam satu kelompok namun sepertinya aku masih sejalan dengan mereka, dan sepertinya hal tersebut diketahui oleh Ghina yang menangkap hal tersebut melalui raut mukaku seusai rapat ia pun menghampiriku.
            “Tuan berpedang hitam, sepertinya saya masih belum mengetahui nama anda”
            “Eh, ehm ya namaku Zakie” jawabku gugup
            “Hahahah, tidak usah kaku begitu, oh iya Zakie saya punya sesuatu yang harus dibicarakan dengan mu?”
            “Oh ok, disini?”
            “Bagaimana kalau di cafe itu, saya rasa akan lebih baik disana” jawabnya seraya menarik tanganku menuju cafe itu.
            Kami pun duduk berhadapan dan aku merasa kaku dan canggung tapi sebaliknya ia malah terlihat santai tidak ada beban sedikitpun terlihat di raut mukanya.
            “Ini lebih terasa seperti kencan ya?”tanyanya memecah keheningan
            “Eh? Apa?” Sontak saja aku kaget dengan pertanyaannya
            “Pffftt, hanya bercana, bagaimana jika kita langsung ke topik intinya?” sebuah pertanyaan untuk merubah suasana
            “Hm, baiklah”
            “Jadi Zakie atau boleh ku panggil dengan Si berpedang ganda?”
            “Hah, dari mana kau tahu itu?” tanyaku dengan penuh heran dan bercampur dengan rasa terkejut.
            “Sebenarnya Saya sedang berada disana saat anda dengan sendirinya mengalahkan bos lantai 49, sebuah pertarungan yang heroik dan dramatis”
            “Heroik? Dramatis? Dari Hongkong, aku hampir saja tewas!”
            “Tidak usah merendah, saat anda megeluarkan skill dual sword itu anda bahkan tak terkena damage sedikitpun”
            “..... Jadi langsung saja keintinya saja , apa yang kau inginkan dariku?”
            “ Anda adalah laki laki yang peka juga ya, sebenarnya saya ingin meminta bantuan dari anda, ada tempat yang harus saya kunjungi dan dengan level saya saat ini sepertinya saya tidak mampu untuk melawan monster monster disana, saya yakin dengan bersama anda saya dengan mudah mencapai tempat tersebut.”
            “Baiklah, tapi dengan dua syarat” balasku singkat
            “Apa?” tanyanya seolah tak sabar
            “Pertama jangan bersikap formal denganku dan yang kedua jadikan tentang skillku itu rahasia kecil dan hanya aku, kau, dan tuhan yang hanya tahu.”
            “Baiklah, kita bertemu besok pagi di kota lantai 48 ok?”
            “Ya, lau apa ini bisa ku sebut dengan kencan kedua kita?” tanyaku dengan sedikit berharap
            “Mungkin”jawabnya singkat seraya tersenyum lalu menghilang dibalik pintu cafe ini.
            Semua telah kembali seperti sedia kala, Ghina sudah lama berlalu namun kenapa jantungku berdegup kencang, lidahku terasa kelu, hatiku merasa rindu, pikiranku menjadi tak menentu, oh tuhan inikah cinta?
            “Ecieee makan bareng sama cewek, selera mu tinggi juga ya zak langsung nggebet pemimpin legiun” seseorang berkata dari ruangan sebelah, tak perlu melihat pemilik suara ini cukup mendengar nya saja aku sudah dapat memastikan bahwa dia adalah Nopal
            “Bukan ursanmu” jawabku dingin
            “Hahahah santai saja jatuh cinta itu wajar kok teman, ada masa masanya memang  dimana kita akan tertarik dengan lawan jenis” balasnya dengan membuat raut wajah seperti orang bijak
            “Iya ya, sepertinya jatuh cinta itu wajar” gumamku pelan
            “Hm sudah kuduga, kau memang mencintainya tak usah dipungkiri, jangan lupakan sahabat pertamamu ini jika kau sudah dekat nanti dengannya ya!”katanya sambil berjalan menuju keluar ruangan.
            Ah apa benar yang dikatakan Nopal ya, sepertinya aku telah jatuh cinta tapi akankah rasa ini berbalas entahlah yang harus kufokuskan adalah bagaimana cara menyelesaikan dunia ini terlebih dahulu saat aku kembali nanti mungkin baru aku akan memikirkan tentang urusan cinta, ya semoga.

***
            Di bawah jam raksasa ku menunggu dia datang, jam ini terletak ditengah tepat ditengah kota karena ia tidak memberi tahu lokasi spesifiknya dan aku juga lupa untuk bertanya maka kuputuskan untuk menunggunya disini selain bentuknya yang mencolokjam ini juga merupakan icon dari lantai 48 jadi setiap ada orang yang datang biasanya mengunjungi jam ini.
Benar saja setelah 15 menunggu yang dinanti pun datang juga, sepertinya aku harus mulai mempercayai feelingku, hari ini Ghina cantik seperti terakhir kali aku melihatnya walaupun dengan seragam tempur lengkap ia terlihat anggun dan menawan, gadis rapier itu lalu berlari mendekati ku.
“Maaf  ya Zak, tadi ada urusan bentar kamu udah lama nunggu?”
“Ah nggak juga kok paling baru 2 menitan”jawabku dengan sedikit tidak jujur
“baiklah kalu begitu kita langsung saja, sebelum matahari terbenam kita harus kembali ke kota bukan?”
“Ya kau benar, jadi kemana kita akan pergi?”
“Kita akan pergi ke utara lantai 48 “
“Hutan larangan?” tebakku
“Ya dan sepertinya Zakie tak sedikitpun terkejut?” tanyanya
“Ah tidak juga kalau begitu ayo berangkat” balasku seraya melangkahkan kaki kearah yang akan dituju.
Perjalanan ini tidak akan berjalan mudah hutan larangan merupakan bukan sekedar nama ada sebanya kenapa hutan itu dinamakan hutan larangan, monster monster disana berlevel lebih tinggi daripada yang seharusnya dan juga memiliki skill khusus seperti racun, stunt, dan serangan jarak jauh ditambah lagi bila melewatinya saat malam maka akan susah untuk mencari jalan keluar karena akan menjadi sangat gelap dan mencari jalan keluar menjadi lumayan musatahil untuk dilakukan, aku sudah lumayan sering pergi kesana, hutan larangan adalah basisku untuk menaikkan level atau leveling dan hal tersebut semakin mudah karena monster disana berlevel tinggi yang akan memberikan poin exp lebih banyak ditambah lagi jarang ada orang yang mau pergi kesana jadi aku tidak harus berebut monster dengan orang lain.
            Matahari sudah berada diatas kepala menunjukkan bahwa hari telah siang, walaupun didalam kastil kami tetap dapat melihat dan merasakan matahari jadi dunia ini hanya dari luarnya saja terlihat seperti kastil di dalamnya seperti miniatur dunia lamaku.
Saat di perjalanan tak banyak yang kami obrolkan kami juga sebisa mungkin menghindari monster monster agar tidak menghabiskan banyak waktu tetapi terkadang ada juga monster yang agresif yang langsung menyerang player saat mereka mendekat.
            “Badak ini berlevel 70, apa kau yakin mau melawannya?” tanya Ghina padaku
            “Santai, ini makananku sehari hari”jawabku dengan sedikit sombong
            “Hati hati kalau begitu”
            “Ashiaap” balasku singkat     
            Aku pun mengambil ancang ancang lalu berlari sepenuh tenaga menuju monster badak itu, nampaknya aku tak perlu mengeluarkan skill dual swordku, sebagai balasannya badak itu pun meraung lalu bersiap untuk menandukku, sebelum ia mendaratkan tanduknya tepat di perutku aku melompat sambil menebas leher dari badak itu walaupun belum mati setidaknya serangan itu memberikan critical hit sehingga menyisakan setengah dari hp barnya, dalam keadaan ini kumanfaatkan untuk mengeluarkan skill slash badak itu pun meraung kencang hingga akhirnya berubah menjadi fragmen fragmen kecil yang berhamburan atau pendeknya mati.
            “Seperti yang diharapkan dari si dual sword” puji Ghina
            “Tak perlu menjadai seorang dual sword untuk melakukan itu, kaupun bisa”
            Ghina tak menjawab hanya mengukir senyuman sebagai balasnya, kami pun mulai masuk kedalam Hutan Larangan.
            “Jadi apa keperluan mu di...” belum selesai aku berbicara Ghina sudah berhamburan menuju sebuah kamp yang hancur, nampaknya pernah ada yang mencoba bermalam disini lalu diserang kawanan monster
            “Ada apa?” tanyaku penasaran
            Dia tak menjawab mungkin karena ia sibuk mencari sesuatu dibalik bekas perkemahan ini, namun sepintas dapat kutangkap kesedihan tersirat di wajanya tampaknya ia sedang menahan tangis, ternyata seorang pemimpin legiun bisa nangis juga pikirku
            Aku pun membiarkannya melakukan hal tersebut sembari mengawasi sekitar kalau kalau ada monster yang datang, namun tiba tiba Ghina pun jatuh terduduk lesu nampaknya ia telah menemukan yang ia cari lalu Ghina pun menangis terisak air matapunuh membanjiri pipinya dan akupun hanya diam ku pikir dia perlu waktu sebelum siap menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, setelah beberapa saat dia pun muali tenang mungkin sekarang waktu yang tepat untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi
            “Ghin, kamu gak papa?”
            “Zak, kenapa kamu memilih menjadi seorang solo player? Bukankah kau tahu itu sangat beresiko”
“Ya aku tau itu beresiko tapi aku punya pengalaman buruk saat aku bertarung bersama guild
“Kenapa?”tanyanya lagi
“Aku kehilangan mereka semua saat pertarungan, sebenarnya tidak semua, aku berhasil meloloskan diri bersama satu orang dari guild namun dia tidak bisa menerima kenyataan ini ia lalu memilih untuk bunuh diri, dan hal itu membekas di diriku aku takut tidak bisa melindungi semua orang atau lebih tepatnya aku takut untuk kehilangan”
“Kita punya cerita yang hampir sama, perkemahan ini adalah kemah aku dan teman teman ku dulu, kami berteman sejak pertama kali datang ke dunia ini, saat kami mencapai level 50 dengan sombonngnya kami pergi ke Hutan Larangan untuk leveling padahal kami tidak punya informasi tentang bahaya apa saja di dalam hutan ini pada awalnya semua berjalan lancar meskipun dengan susah payah  kami berlima yang terdiri dari 2 pendekar pedang, 1 penombak, 1 perisai dan 1 pemanah dapat mengalahkan monster yang berlevel hampir sama dengan badak yang kau lawan seorang tadi, kesalahan kami adalah saat hari mulai petang dan karena kami sudah terlalu lelah untuk pulang kami pun memutuskan untuk membuat perkemahan dan menginap di hutan ini, saat hampir dari kami semua  terlelap kami dikepung oleh sekumpulan monster penghuni hutan ini dan lalu .....” Ghina tak mampu untuk melanjutkan ceritanya tangisnya pun pecah sedari tadi kesedihan yang ia bendung keluar, memang menyakitkan untuk mengenang peristiwa yang tidak ingin kita ingat
“Kau tidak perlu melanjutkannya jika kau tak ingin” Kataku
“Tidak, biarkan aku melanjutkannya, disaat kami mulai tersudut dan kami hanya memiliki satu kristal teleportasi, semua menolak menggunakan kristal itu semuanya sepakat akan bersama hingga akhir, namun disaat kami mulai kehilangan teman satu persatu seseorang dari kami mulai mengaktifkan kristal teleportasi kupikir dia yang akan berteleportasi jadi aku bergerak kedepannya untuk melindunnya tapi aku salah disaat saat kristal itu siap digunakan dia melemparnya ke arahku.., hanya aku yang selamat dan itu hanya menjadi beban bagiku kau pasti juga merasakannya kan Zak?”
“...”
“Dan ini adalah yang kucari” Seraya menunjukkan sebuah liontin
Sebuah liontin indah berwarna hijau dan terdapat beberapa pahatan nama disana yaitu Ghina, Dya, Ledif, Gea dan Hanan dapat ditebak itu pasti nama dari teman teman Ghina
“Ini adalah benda yang sangat berharga bagiku dan satu satunya kenang kenangan dari mereka yang tersisa” lanjutnya
“Apa kau tidak mengalami trauma yang seperti ku alami?”
“Pada awalnya juga begitu namun pilihan menjadi seorang solo player sangatlah egois, aku sudah diselamatkan oleh teman temanku dan bila aku menjadi seorang solo player aku hanyalah mementingkan diriku sendiri sedangkan banyak diantara kita yang masih belum memiliki level diatas 40 maka ku putuskan untuk bergabung dengan guild terbesar di dunia ini agar sekiranya aku dapat membantu yang lain”
Jawaban Ghina bagaikan sebuah tamparan keras tepat diwajahku, selama ini aku hanya memikirkan diriku saja dan aku lupa bahwa seluruh orang disini adalah sama sepertiku butuh penghidupan juga butuh makanan juga butuh uang juga untuk bertahan hidup sedangkan aku yang dikaruniai skill khusus malah dengan asyik berburu sendirian bertingkah seolah akulah pahlawannya.
“Maaf bila itu membuat Zakie tersinggung” tambahnya
“Tak apa kurasa Ghina juga ada benarnya”
Ghina juga mengalami apa yang pernah ku alami tapi dia tidak menjadi anti sosial sepertiku ya kurasa aku harus berubah
“Baiklah, tujan kita kesini telah tercapai ayo pulang” Kata Ghina
Pulang? Rasanya hari ini baru saja dimulai dan aku baru saja mengenalmu lebih dekat tak bisakah hari ini lebih panjang lagi.
            Disepanjang jalan kami lebih banyak diam dan tak berbicara dan sesuatu yang aneh pun mulai muncul, suara raungan terdengar dimana mana sepertinya kami dikepung, ternyata monster monster disini sangat peka terhadap kehadiran player, dalam sekejap sudah ada 5 manusia kadal menghalangi jalan kami, manusia kadal ini berlevel 75 bukan lawan yang cukup mudah namun tidak ada pilihan selain bertarung.
            “Ghin, aku akan mengulur waktu, gunakan kristal teleportasi untuk pergi dari sini!”
            “Enggak, nggak akan biarkan aku menemanimu bertarung walaupun aku baru berlevel 60 ku yakin rapier ku akan cukup berguna”
            Disatu sisi aku harus focus dengan musuh musuh yang siap membunuh kami namun disisi lain kata kata yang Ghina ucapkan membuatku harus bertarung dengan perasaan tidak karuanku saat ini apakah ini yang disebut baper?
            Satu manusia kadal dating mendekat dengan sigap ku keluarkan kedua pedangku dan aku sedang dalam mode pedang ganda, manusia kadal itu mulai mengayunkan pedangnya lalu kutangkis dengan salah satu pedangku dan satunya lagi ku ayunkan tepat kelehernya berharap mendapat critical attack dan langsung dapat membunuh kadal sialan ini, dan ya memang hari keberuntunganku manusia kadal itupun terpenggal lalu mati namun pertempuran baru saja dimulai 4 manusia kadal mulai mendekat dari arah yang berlawanan tak ada pilihan lain aku harus berbagi arah dengan Ghina
            “Ghin, tahan sebelah kanan aku ambil sebelah kiri” pintaku
            “Serahkan padaku”
            Dua manusia kadal mendekat kearahku bukan situasi yang gawat aku sudah pernah melawan mereka 4 sekaligus, namun disini aku harus membagi fokusku dengan Ghina, aku menghawatirkannya walaupun dia seorang rapier ulung  namun rapier bukan alat yang tepat dalam menghadapi manusia kadal, hanya ada satu cara  aku harus menyelesaikan bagianku dengan cepat lalu membantu Ghina menyelesaikan bagiannya.
            Pedang kami mulai beradu kedua manusia kadal ini menyerang secara bersamaan dengan pedang gandaku maka akan lebih mudah menahan serangan mereka lalu aku mengambil jarak beberapa langkah dan mulai berlari ke arah kedua kadal dan kugunakan skill andalanku yaitu war dance, skill ini efektif digunakan dalam menghadapi banyak musuh dengan mengayunkan pedang tanpa henti yang membentuk suatu pola mungkin karena itu disebut dengan tarian perang tapi itu tidak mampu memusnahkan kedua manusia kadal ini, seolah sudah mengetahui kekuatanku manusia kadal ini berpencar dan menyerangku dari arah yang berbeda, serangan serangn mereka mulai datang dentingan dentingan suara pedang terdengar nyaring ditelinga kufokuskan satu serangan kearah manusia kadal yang paling sedikit hp barnya dan satu tusukan berhasil kudaratkan  tepat diperut manusia kadal itu dan manusia kadal itupun mati tetapi serangan ini membuatku lengah manusia kadal yang satunya menyerangku dari belakang dan itu membuat hp barku berkurang lalu kubalas dengan tebasan menyilang di badannya dan kadal itu pun menyusul rekannya yang baru ku kalahkan
            Aku melupakan satu hal bahwa sekarang aku tidak bertarung sendiri, benar saja tebakanku Ghina dalam posisi tersudut aku bias melihat hp barnya memerah satu ayunan pedang mengarah tepat ke arahnya dengan cepat aku berari dan menepisnya namun aku tidak benar menepisnya, aku hanya menahanya dengan pergelangan tanganku akibatnya aku kehilangan tangan kiriku kugunakan tangan kananku menusuk perut manusia kadal itu dan 1 lagi manusia kadal berhasil dikalahkan, untuk kesekian kalinya aku lengah masih ada satu manusia kadal tersisa dan tanpa kusadari sebilah pedang tepas menembus di perutku dengan segenap kekuatan yang tersisa ku tusukkan kembali pedangku ke jantungnya dan mari kita lihat siapa yang akan menjadi fragmen fragmen mungil lebih dulu, hp bar manusia kadal itu habis aku menang ya aku menang dengan menahan rasa yang teramat sangat sakit aku mencoba mengeluarkan ramuan pemulihan, dengan ramuan ini aku bisa mendapatkan kembali tangan kiriku dan memulihkan hp barku dan kulihat Ghina pun melakukan hal yang sama
            “Maaf Zak, Aku baru saja hampir membunuhmu semua ini salahku” ia pun mulai terisak
            “Tak mengapa, aku melakukannya karena aku tak ingin kehilangan orang yang kucintai lagi”
            Tangis Ghina pun berhenti dan ia terkejut mendengar apa yang kukatakan mukanya berubah menjadi merah dan akupun sendiri tak sadar dengan apa yang kukatakan butuh beberapa saat sampai aku menyadari apa yang sebenarnya kukatakan dan aku pun tak mengetahui raut muka ku sudah seperti apa sekarang, keadaan berubah menjadi canggung
            “Emm sepertinya kita harus melanjutkan perjalanan hari sudah mulai sore” kataku memecah keheningan
            “Iya”
            Tepat saat malam tiba kami pun sudah berada dikota
            “Zakie trimakasih telah membantuku hari ini”
            “Ah iya no problem
            Aku pun mulai melangkahkan kaki ku ke arah penginapan terdekat tiba tiba
            “Zakie, mau nggak kamu jadi rekan party ku?”
            “Eh, bukannya kamu sudah ada guild”
            Guild tak membatasi party anggotanya, jadi bagaimana?”
            “Baiklah kenapa tidak” jawabku tanpa ragu lagi
            “Ku tunggu petualangan selanjutnya”
            “Maksudmu kencan selanjutnya kan”  Candaku
            Tak  menjawab, hanya senyum yang sangat indah terukir kembali diwajahnya dah yah aku yakin aku bakal merindukan senyum itu kami pun berpisah tapi ku yakin ini hanya sementara
            Hari hari selanjutnya terasa sangat cepat berlalu hubungan aku dan Ghina semakin dekat kami sering leveling, berburu atau hanya sekedar berkeliling kota-kota yang baru dijelajahi kami juga turut serta dalam setiap pertarungan mengalahkan bos lantai, hubungan rekan party kami tak ada bedanya dengan apa yang disebut diduniaku dengan pacaran dan aku pun semakin jatuh dalam perasaan entah berbalas atau tidak ini.
            Tak terasa telah 12 bulan berlalu dan kami sudah dilantai 99 satu lantai lagi menuju kepulangan kami, aku merasa antara senang dan sedih, senang karena akan segera pergi dari dunia ini dan sedih karena harus berpisah dengan Ghina walaupun kami berdua dari dunia yang sama tetapi bisa saja Ghina dari waktu yang berbeda atau dunia paralel dan adalah hampir mustahil untuk kami bertemu kembali di dunia asal kami.
            Hari penaklukan bos lantai 99 pun tiba, jikalau biasanya dalam penaklukan bos lantai hanya pasukan garis depan yang bertarung namun hari ini semua player yang tersisa sebanyak 1000 orang berkumpul dan menyatukan kekuatan untuk mengalahkan bos terakhir, dan ditengah lapangan yang menjadi basis kami saat ini aku sedang berusaha mencari Ghina dan aku pun teringat bahwa aku masih membentuk party dengannya jadi aku bisa mengirimkan pesan untuk bertemu, setelah pesan terkirim samar samar ada suara memanggilku suara yang kutunggu tunggu datangnya.
            “Hai zak!”
            “Eh halo Ghin, keknya gak sabar laginih mau pulang?”
            “Iyaa” jawabnya dengan penuh semangat
            Aku pun hanya membalas dengan senyuman dan berharap seandainya dia mengerti apa yang ku rasakan.
            “Eh itu sepertinya yang lain sudah mulai bersiap aku juga harus kembali ke barisan ku, Zakie juga semangat kita pulang bareng bareng ya?” katanya sambil berlalu
            “Iya….semoga” lirihku dan aku yakin ia tak mendengarnya
            Kami tidak di barisan yang sama Ghina dibarisan ke 2 bersama pendekar pedang lainnya sedangkan aku di baris pertama bersama pengguna perisai entah kenapa aku dimasukkan ke barisan ini entah mereka kekurangan pengguna perisai atau mungkin mereka sudah mengetahui skill khususku.
            Kami pun memasuki ruangan bos lantai berada, sesuai informasi bos yang akan kami lawan adalah monster Taurus jumbo bersenjata pedang dua tangan dengan tingkat level 100 ya level maksimum sama sepertiku, walaupun dari kami  bisa dihitung dengan jari yang memiliki level setara dengan bos namun kami sangat unggul dalam kuantitas 2000 melawan 1 ini akan menjadi pertempuran terakhir kami.
            Sesuai rencana saat monster ini menyerah batalyon 1 menahan serangan nya, sebanyak 199 pengguna perisai dan 1 pengguna pedang yaitu aku menahan ayunan pedang raksasa ini lalu saat kami telah berhasil menahannya diantara tenggang waktu yang diberikan pasukan kedua terdiri 100 pengguna rapier, 250 pengguna pedang satu tangan, 50 pengguna pedang dua tangan, 100 penombak datang menyerbu si Taurus dan setelah pasukan batalyon ke 2 melancarkan aksinya pasukan 3 sebagai penyerang jarak jauh menyerang sekaligus membuka jalan bagi batalyon 1 dan 2 untuk mengambil jarak dari bos, sebuah strategi yang mudah bukan dan setiap kali siklus ini berlangsung kami hampir tidak kehilangan orang kecuali beberapa pengguna perisai yang tak kuat menahan ayunan pedang dari bos dan beberapa pasukan batalyon ke 2 yang kurang beruntung yang terkena gerakan reflek raksasa itu saat terkena serangan.
            Keadaan berbalik saat hp bar Taurus ini berubah menjadi setengah, dia mengubah senjata dan pola serangannya semula hanya menggunakan satu pedang kini dia menggunakan dua pedang jadi saat pasukan pertama menangkis serangan dari bos ayunan pedang yang satu lagi menyusul lalu membuyarkan formasi pasukan barisan 1 dapat dipastikan kami telah kehilangan hampir seluruh dari pasukan batalyon1 lalu pasukan batalyon 1 yang tersisa bergabung dengan pasukan batalyon 2 dan pasukan batalyon2 mengambil alih peran batalyon 1 dan memiliki peran ganda menahan lalu menyerang.
            Kondisi tidaklah kian membaik malah bertambah parah hal serupa juga terjadi pada batalyon 2 dan diperparah leparan pedang Taurus yang mengarah ke batalyon 3 sehingga membuyarkan formasi mereka ditengah kekacauan ini kami perlu mundur dan memulihkan diri lalu menyusun ulang formasi namun hal tersebut butuh waktu dan sepertinya pemimpin umum dari seluruh batalyon akan mengulur waktu untuk kami dia maju dengan sendirinya dengan bersenjata sebilah pedang dan sebuah perisai sambil berteriak “Mundur ! aku akan ulur waktu”  walaupun jenis senjata yang dibawa oleh pemimpin sangat cocok untuk melawan senjata si sialan itu namun perbedaan level yang mencolok tampaknya menjadi kelemahan yang berakibat fatal, pak pemimpin memang berhasil menahan ayunan pedang pertama dari monster itu namun ayunan kedua berarah horizontal dari atas kepalanya  berhasil membuat perisai pak pemimpin terbelah dan sekaligus membelah tubuhnya menjadi dua bagian sungguh akhir yang teragis hal ini tentu saja menurunkan daya juang dari seluruh player, sedangkan  mataku terus mencari keberadaan Ghina dan syukurlah dia masih ada disana sedang membantu menyembuhkan orang orang yang sedang sekarat.
            Memang saat ini kondisi kami sedang terpuruk, banyak player yang telah putus asa dan tak mampu lagi mengangkat senjatanya dan disisi lain masih banyak  player yang sekarat dan butuh bantuan. Kami sudah sedekat ini dengan kemengangan akankah kami semua akan berakhir disini , disaat saat genting ini teringat olehku senyuman Ghina sebelum kami pergi kemari, dia sangat ingin sekali pulang dan lelaki sejati mana yang mau mengecewakan wanitanya, aku sudah pernah lari dari ketakutanku dan hal tersebut membuatku menyesal untungnya Ghina hadir dan menyadarkanku akan hal itu dan sekaranglah adalah waktu yang untukku menebus kesalahanku, aku harus menyelesaikannya karena skill dual sword ini bagaikan amanah yang berat bagiku untuk menamatkan dunia ini, wahai tuhan kenapa kau memilih ku?
            Dengan tekat bulat sebulat tahu bulat ku berlari menuju Taurus yang sedang meraung raung seolah tertawa melihat penderitaan yang kami alami, dengan perimeter 6 meter kubuat segel yang mengelilingi ku dan Taurus sialan ini agar ia tak bisa menyerang pasukan yang lain, segel ini setidaknya bertahan selama satu jam kedepan dampak negatifnya adalah aku tak bisa mendapat bantuan dari yang lain tapi tak apa bagaikan penebusan dosa ku hal ini telah kuputuskan dengan segenap keyakinaku
“Sekarang hanya akan ada antara kau dan aku banteng jelek”.
            Ku keluarkan kedua pedangku dari masing masing sarungnya sepintas aku dapat melihat sorakan sorakan dari luar segel tampaknya mereka memberiku semangat hal ini makin membakar semangatku, dengan sombongnya Taurus itu mengeluarkan gestur yang berarti majulah kapan pun kau siap, ku hunuskan kedua pedangku dan aku mulai bergerak maju dentingan suara pedang beradu mulai terdengar duel antara hidup dan mati baru saja dimulai, aku terus saja menangkis serangan dari raksasa ini dan sialnya belum ada kesempatan untukku menyerang dan satu momentum dimana monster itu termudur akibat beradu ayunan pedang dan itulah kesempatan ku dengan berteriak menggertak ku keluarkan skill baruku 100 slash dengan serangan dengan mengayunkan pedang bertubi tubi yang membentuk suatu pola dan menimbulkan efek stunt sehingga musuh tak bisa menghindar tetapi ternyata stunt tidak berpengaruh pada badak jelek ini seranganku berkali kali di intrupsi dengan pukulan karena seranganku sebelumnya mementalkan senjatanya dan kami pun saling bertukar serangan aku dengan ayunan pedangku dan dia dengan tinjuannya harus ku akui ini lumyan sakit kucoba untuk mempercepat ayunan pedangku agar serangan yang ia terima lebih banyak daripada serangan yang ku peroleh dan untuk sekali lagi mari kita lihat siapa dulu yang akan habis hp barnya,  monster itu lebih dulu pecah menjadi kepingan fragmen fragmen sebelum mendaratkan pukulan kesekiannya  dan aku pun tak melihat warna lagi di hp barku apa aku juga akan mati ternyata tidak sepertinya masih ada satu garis merah tipis disudut hp barku lagi lagi keberuntungan masih setia disisiku.
            Segel yang kubuat pun mulai hancur dan dapat semua orang menyorakiku dan mereka terlihat sangat bahagia, Ghina pun berhamburan mendekatiku ia juga terisak dan menamparku seraya berkata “Apa gunanya ini semua jika kamu mati” dan akupun hanya menjawab dengan senyuman yang tulus dari lubuk hatiku akhirnya ada juga seorang wanita selain ibuku yang menangis untukku.
Dunia ini pun mulai menghancurkan dirinya sendiri dan kami mulai memutih dan semakin menjadi transparan, mungkin ini cara tuhan memulangkan kami.
“Sudah berakhirya ?”  Tanya Ghina
“Ya sepertinya begitu” Jawabku, entah mengapa rasa sesak mulai muncul dalam dada ini
“Jadi apa ini artinya perpisahan?”  Tanyanya sekali lagi
            Pertanyaan itu membuat hati ini semakin tersayat, kenapa selalu ada perpisahan setelah pertemuan dan akupun tak ingin menyesal maka akhirnya kuberanikan diriku menyampaikan apa yang seharusnya sudah lama kusampaikan
            “Ghin,  satu pernyataan dan pertanyaan terakhir” 
            “Iya?”
            “Aku mencintaimu”kataku tanpa keraguan sedikitpun
            “Ya aku tahu itu dan aku juga mencintaimu Zak” jawabnya sambil memandang mataku
            “Pertanyaannya diantara 1 berbanding satu juta kemungkinan bila kita bertemu kembali baik dikehidupan yang sekarang ataupun yang mendatang maukah kamu menikah denganku”
            Ghina pun tak menjawab sekali lagi ia tersenyum sambil menangis lalu ia menganggukkan kepalanya yang berarti setuju, senyum itu pasti akan kurindu.
            “Diantara berjuta masa dan dunia paralel, adakah satu hal yang dapat meyakinkanku bahwa kita akan bertemu lagi?” Tanya Ghina
            Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala “Tidak ada, Karena ini hanyalah untaian takdir tak ada yang akan tahu”
            “Ya ini hanya untaian takdir”
            “Aku akan merindukanmu” tambahku
            “ Dan sekarangpun aku mulai merindu” balasnya
            Tubuh kami pun makin menghilang dan makin tidak terlihat menyadari waktu yang kami punya tak lama lagi aku pun mulai mengucapkan kalimat perpisahan
            “Senang mengenalmu sampai jumpa dan sampai bertemu dalam satu berbanding sejuta kemungkinan”
            “Iya sampai jumpa dan jangan lupakan aku, kita mungkin akan bertemu kembali suatu saat nanti, bye bye Zak !!!” 
            Semuanya terlihat putih dan aku merasa diriku mengambang entah dimana dan tiba tiba penglihatanku menjadi hitam dan… gubrak  seseorang telah menghentak meja
            “Zakeee bangun! tidur terus ya pelajaran bapak” suara ini, sudah lama sekali tidak kudengar berapa lama aku pergi, hampir saja diriku lupa siapa pemilik suara khas ini
            “Ah idak pak baru jugo 5 menit” balasku walaupun sebenarnya aku masih belum menyadari apa yang terjadi
            “Nak ngolai bapak kamu ya?” Tanya pak Hendri dengan bahasa dan logat Palembang yang bercampur bahasa Indonesia
            Rupanya aliran waktu di dunia asalku tak bergerak selama aku pergi atau aku dipulangkan disaat yang sama aku pergi entahlah aku juga tidak tahu yang jelas sekarang aku sudah pulang dan bagaimana denganmu Ghina?
               

TAMAT






1 comment:

cerpen bebas kopas

Temukan Pedangmu di Dunia ini Apakah aku hanyalah seorang idiot yang berkhayal akan menyelamatkan semua orang dengan kekuatannya? S...